Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

5 April 2015

Review Novel | Senandung Rima Masa Lalu - Ikadelia


http://diandracreative.com/books/229-2015-02-23-senandung%20rima.jpg Judul Buku : Senandung Rima Masa Lalu
Penulis : Ikadelia
Penerbit : Diandra Creative 

Mingguuu.. Long weekend.. Long holiday masih terasa yaaa..
 
Bagaimana dengan harimu? Bersiap untuk beraktivitas kembali esok hari.. Pasti masih pada merasa liburnya kurang lama..haha.. Like me yaaa..haha..
Book Review kali ini datang kembali dengan Novel dari mba Ikadelia yang berjudul Senandung Rima Masa Lalu. Nah lho.. Berasa kayak judul lagu bukan sih? Ngga-lah.. Beda.. Penasaran kan pastinya kayak apa sih ceritanya? Pasti mikirnya alurnya mundur kan? Salah! Alurnya maju mundur cantik.. Aishh, kayak mba Syahrini malahan..haha.. Boleh langsung berkunjung ke DiandraCreative buat pesan, karena diterbitkan indie. Dijamin ngga bakalan nyesel deh kalau udah baca *ujung-ujungnya promosi lagi*.

And the synopsis..

“Bagaimana jika mantan kekasihmu, yang telah menghancurkan hidupmu,
merenggut masa depanmu, dan menempatkanmu dalam masa-masa tersulit
di hidupmu setelah ia mencampakkanmu, kembali muncul
di hadapanmu? Sekali lagi mencoba mengejarmu”

Tapi mungkin bukan karena dia masih mencintaimu seperti di masa lalu,
melainkan karena dia mengklaim dirinya sebagai
ayah biologis dari putri kecilmu.

Pasti udah bisa bayangin kan ya gimana ceritanya? And this part is my favourite, hope you’ll like it.


Here we go..

“Bahwa pria itu adalah seseorang dari masa laluku? Masa lalu yang sudah sangat jauh kutinggalkan. Masa lalu yang perlahan kulupakan” (hal. 23)

“Bunga matahari, karena bagiku kamu adalah cahaya mentari yang menyambut pagiku. Mawar merah, karena cintaku untukmu merekah, seindah dan semerah mawar ini. Mawar putih, karena kamu adalah lambang kesucian yang ingin kujaga. Kamu semurni mawar putih yang rapuh tapi berduri” (hal. 29)

“Bertemu seseorang yang sangat kucintai dulu. Yang cintanya kurasakan masih membekas di hatiku. Pertemuan kecil yang menerbangkan sebagian rasa rinduku yang lama terpendam untuknya. Rimaku. Bait dari rima masa laluku yang hilang, yang dulu kulepaskan demi membayar semua kesalahanku. Dan membuat nada kehidupanku tak lagi sama” (hal. 43)

“Cinta? Cinta itu bullshit! Cinta apa yang membuat seseorang melangkah pergi setelah merenggut segalanya dariku? Cinta apa yang membuatku harus menanggung segalanya sendiri? Cinta apa yang membuatku kehilangan ayahku karena kehamilanku? Cinta apa yang membuat ibuku kecewa padaku? Cinta apa yang membuat abangku sendiri membenciku? Cinta apa yang membuat seorang anak lahir tanpa ayah? Cinta apa? Cinta yang hanyalah omong kosong! Y, itulah jawabannya. Pasti” (hal. 67)

“Jika tak bisa aku meninggalkan dunia, maka biarlah kutinggalkan tanah Jakarta” (hal. 125)

“Asing bagi kehidupannya, meskipun sesungguhnya sama sekali taka sing bagi darah yang mengalir dalam pembuluh di tubuhnya” (hal. 131)

“Semua ini adalah takdir yang telah digariskan Tuhan untukku” (hal. 142)

“Aku yakin, sangat yakin bahwa Tuhan menginginkan aku bertemu kembali denganmu, menginginkan aku untuk memperjuangkanmu. Maka hanya itulah yang akan kulakukan, Rima. Mencoba memperjuangkanmu. Bahkan hingga titik darah penghabisan” (hal. 157)

“Kehadiranmu hanya membuka kembali luka lama yang sudah terkubur” (hal. 159)

You are so white and pure, just the like this beautiful white roses” (hal. 210)

“Kuharap kamu masih ingat arti mawar merah bagiku untukmu. Tentang perasaanku padamu, Rima. Cintaku untukmu merekah, seindah dan semerah mawar ini” (hal. 215)

“Sebuket bunga matahari sebagai pertanda bahwadia masih merupakan mentari yang menyinari kehidupanku. Meskipun kini sinarnya meredup, kuharap aku akan dapat mengembalikan lagi pancaran yang dulu pernah begitu indah. Sebuket mawar putih sebagai pertanda bahwa di mataku dia tetap seorang gadis yang suci, murni, yang harus kujaga. Walaupun pada kenyataannya akulah yang telah merusaknya, menghancurkan kesuciannya, tapi dimataku dia tetaplah sama dan sebuket mawar merah sebagai tanda betapa aku masih mencintainya. Selalu mencintai dan cinta itu tak akan pernah berubah” (hal. 220)

“Kamu tau sendiri darah itu lebih kental daripada air” (hal. 233)

“Pada kenyataannya darah memang selalu lebih kental daripada air” (hal. 250)

“Perasaan Ridwan adalah miliknya, sedangkan perasaanmu adalah milikmu. Kami tak punya hak memaksakannya padamu” (hal. 251)

“Masa lalu bisa disesali sedalam apapun, tapi tak akan pernah bisa diubah. Tapi aku yakin aku masih bisa memperjuangkan masa sekarang saat ini, pa. Aku ingin memperjuangkan Rima kali ini. Aku tak ingin menjadi bajingan pengecut seperti dulu lagi. Aku ingin meraih kesempatan kedua dari Rima, bagaimanapun caranya. Aku ingin punya kesempatan menghapus airmata Rima kali ini” (hal. 263)

“Terkadang harapan merupakan satu-satunya hal yang bisa kita miliki” (hal. 266)

“Tapi kini, kupercayakan hidupku bersamanya, kupercayakan dia untuk memberikanku kebahagiaan yang nyata. Kupercayakan dia menjadi tempatku pulang” (hal. 348)

“Jangan ada kata maaf atau terima kasih lagi jika kita mengenang masa lalu. Kisah ini tentang kita, tentang kebersamaan kita. Kita bisa melupakan semua rasa sakit yan pernah ada, dan melanjutkan jalan yang telah kita lalui dengan mengisinya dengan kebahagiaan. Merangkai sebuah asa yang baru. Membentuk kisah yang bahagia” (hal. 352)

“Bersama menikmati rasa bahagia yang kini hadir memenuhi kehidupan kami. Dengan merangkai masa depan kami bersama. Masa depan yang akan dipenuhi dengan cinta dan kebahagiaan yang sempurna dalam ketidaksempurnaan” (hal. 355)

“Dia membawakan cinta sejati dari masa lalu.membawa sebuah kebahagiaan yang manis dari semua perih yang pernah kulalui. Aku sudah mencapai pelangi, Ridwan. Jangan lagi membawa gerimis kemari” (hal. 361)

“Karena dia.. adalah sebuah asa yang baru dalam keluarga bahagia kita” (hal. 401)

“Tapi ini bukan akhir. Ini bagian dari perjalanan kami, yang harus melalui liku dan luka, pedih dan airmata. Tentu saja bukan berarti luka dan airmata tak aka nada lagi dalam kisah kami, karena sesungguhnya semua itulah yang member warna dalam kebahagiaan kami dan membuatnya lebih sempurna. Bukan berarti yang namanya akhir bahagia itu tak pernah ada. Hanya tergantung apakah kita mau berhenti sejenak untuk mensykuri apa yang kita miliki sebagai sebuah akhir yang bahagia. Walaupun kita tau bahwa perjalanan kita masih panjang” (hal. 402)

- Eventhough your past is bad, just leave it and reach your happiness in your life. Second change will leave you if you won't to take that chance -

4 comments:

  1. aku belum pernah baca karyanya Ikadelia. kutipan hal. 266 bikin keselek: “Terkadang harapan merupakan satu-satunya hal yang bisa kita miliki”.
    btw, aku juga suka nulis review novel, tapi sekarang jarang, di sini: http://theladybooks.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka baca Wattpad, mba.. Jadi, tau mba Ikadelia dari wattpad juga. New author, mba, di dunia pernovelan..

      Banget, mba.. Hope a miracle..hehe..

      Oke, mba, aku BW yaa.. makasih, mba

      Delete
  2. Kutipan-kutipannya enak dibaca dan bikin penasaran ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asik kan, mba?

      Langsung yuk, mba, daripada penasaran, cuss ke DiandraCreative *promosi lagi*

      Delete

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, sobat! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...