Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

3 June 2015

Review Novel | Jodoh Untuk Naina - Nima Mumtaz

http://www.gramedia.com/media/catalog/product/cache/1/image/9df78eab33525d08d6e5fb8d27136e95/2/0/204752060.jpgJudul Buku : Jodoh Untuk Naina
Penulis : Nima Mumtaz
Penerbit : Elex Media Komputindo

ISBN : 9786020263489

Holaaa...

Aku bener-bener tepar banget. After cuti, masuk kerja ditungguin deadline laporan, rasanya itu menyenangkan sekali. Tapi, tetep.. di sela-sela waktu curi sedikit boleh kali yaa buat baca-baca novel lanjut review? Semoga apa yang aku review kali ini tidak mengecewakan banyak penggemar mba Nima Mumtaz, penggemar novel Islami dan romance, penggemar Elex Media. Dilihat dari judulnya udah punya ekspektasi sendiri nih. Karena memang dari awal telat ngikutin cerita ini di si orange alias wattpad, walhasil, dengan rabaan singkat, udah bisa dipastiin ini novel bakalan bikin aku ngga bosan. Bener kan? Sore sepulang kerja, liat kiriman paket, buka, kaget, langsung sobek pembungkusnya dong, baca deh sampai lupa kalau udah mau maghrib. 

Jodoh untuk Naina ini adalah novel ketiga dari mba Nima Mumtaz. Setelah Cinta Masa Lalu dan Akulah Arjuna. Novel ini lagi dan lagi diterbitkan oleh Elex Media. Bikin mupeng banget pas tau proses mau jadi buku. Hope someday I can be like her :). Dan semoga kalian, para pembaca suka yaa sama Book Review Ala Asri

And the synopsis..

Jodoh untuk Naina, Abah yang pilih. Naina ikhlas.
Tapi, kenapa Abah pilih dia?
Dia yang punya masa lalu kelam.
Dia yang pernah diarak keliling kampung karena berzina.
Dia yang tidak sempurna.
Mengapa Abah begitu yakin dia mampu
menjadi imam Naina?
Bagaimana Naina harus menjalani kehidupan rumah
tangga bersama pria yang tidak dia sukai, bahkan
sebelum akad nikah?
Apakah dia adalah jodoh untuk Naina?


Here we go..

Naina, tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau. Karena Allah telah menuliskannya dalam garis takdirmu (JUN, hal. 2)

Ya Rabb, apakah memang sudah tiba waktu menyempurnakan separuh dien-ku? (JUN, hal. 3)

Kematian itu pasti hukumnya (JUN, hal. 3)

Birrulwaliddain. Bakti pada orangtua (JUN, hal. 5)

Ya Allah, tolong ikhlaskan hatiku (JUN, hal. 5)

Dek, yang namanya istikharah itu nggak selalu datang jawabannya lewat mimpi. Dia bisa datang lewat petunjuk yang lain, misalnya kemantapan hati, proses yang nggak berbelit, kelancaran segala sesuatunya, banyak deh (JUN, hal 16)

Tentu. Kamu punya banyak pilihan. Aku tak akan memaksa. Dan kalau kamu memutuskan untuk tak meneruskan rencana pernikahan ini, aku sendiri yang akan menjelaskan pada keluarga kita. Kamu selalu punya pilihan, Naina (JUN, hal. 22)

Bismillahirrahmannirahim, Allahumma inni asy aluka min khoiriha wa khoiri ma jabaltaha alaihi. Wa audzu bika min syarriha wa syarii ma jabaltaha alaih (JUN, hal. 36)

Jadilah istri yang baik, Naina. Tanggung jawab Abah sudah selesai. Abah hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan keluarga barumu. Semoga keberkahan menyertai pernikahan kalian dan selalu dilimpahkan kebaikan untuk kalian berdua (JUN, hal. 38)

Ya Rabb, telah Kau gariskan ini padaku, kupasrahkan semua pada-Mu. Hanya Kau yang mampu membuat semuanya lebih baik. Hanya Kau yang tahu, mana yang paling baik untuk kami (JUN, hal. 38)

Naina, tobat itu adalah urusan antara manusia dengan Tuhan. Allah akan menerima tobat setiap manusia, siapa pun dia, asalkan itu dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Taubatannasuha. Bersungguh-sungguh menyesali apa yang telah diperbuat dan tidak akan mengulanginya sama sekali. Nah, bagaimana sikap kita sebagai sesama muslim? Tentu saja mendukung, menerima, dan membantu (JUN, hal. 79)

Naina, alangkah sombongnya kita sebagai manusia jika tidak mau menerima manusia lain yang ingin berubah. Sedangkan, Allah saja menerima setiap pertobatan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang ingin kembali pada-Nya. Masa kita sebagai manusia malah menyalahi kehendak-Nya? Tidak ada yang terlalu kotor ataupun bersih di mata-Nya. Apalagi belum tentu kita lebih baik daripada orang tersebut. Itu namanya takabur (JUN, hal. 80)

Satu lagi, Nak, jangan suka berandai-andai, karena itu adalah pintu masuk setan (JUN, hal. 80)

Manusia tidak berhak menilai apakah manusia lain itu pantas atau tidak pantas untuk bertobat. Kalau kamu takut dan kecewa, itu karena kamu hanya berharap pada manusia. Ingat, serahkan segala sesuatunya hanya pada Allah. Percayailah segala ketentuan-Nya. Kalau kamu melakukan semuanya karena Tuhanmu, pasti tidak akan ada kekecewaan nantinya (JUN, hal. 81)

Mulailah mensyukuri apa yang kamu dapat sekarang. Agar pikiranmu lebih terbuka (JUN, hal. 83)

Sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah (JUN, hal. 83)

Ibu hanya bisa mendoakan semoga pernikahan kalian selalu mendapat kebahagiaan dan keberkahan dari Allah, dilapangkan rezekinya, dijauhkan dari segala hal buruk dan juga fitnah (JUN, hal. 122)

Dan ingat, walaupun seorang istri punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan suaminya, tapi jangan salah, suami juga punya kewajiban memenuhi kebutuhan istrinya (JUN, hal. 158)

Dan walaupun Nai tak semulia Fatimah Azzahra, tapi Naina hanya ingin seperti beliau yang seumur hidupnya tak pernah dimadu oleh Ali (JUN, hal. 201)

Apa kamu tak bisa menerima masa laluku, Naina? Aku memang bukan orang baik. Aku bukan laki-laki sempurna yang jauh dari dosa. Tapi, aku menginginkan kehidupan terbaik, bersamamu (JUN, hal. 207)

Kamu cari jawabanmu karena aku sudah menemukan jawabanku. Kamu tahu bagaimana aku bersikap dalam hal ini (JUN, hal. 213)

Menikahlah dengannya, berikan satu talakmu untukku, dan aku akan mengikhlaskan semuanya. Doaku untuk bahagiamu (JUN, hal. 214)

Ya Rabb, maaf jika aku mencinta makhluk-Mu terlalu sungguh. Maaf jika aku merindu makhluk-Mu dengan segenap rindu yang kupunya. Tapi aku tak sanggup menahan ini, ya Allah. Aku terlalu mencinta, aku amat sangat merindu. Allahku, tolong jaga dia dalam lindungan-Mu. Jaga dia dalam kasih sayangmu. Jaga hatinya agar selalu dalam lingkup rahmatmu (JUN, hal. 214)

Allahku, apa yang Kau rencanakan untukku? Apa yang coba Kau katakan padaku? (JUN, hal. 218)

Lagi-lagi aku hanya bisa menahan gerimis di hati dan menumpahkannya saat sudah sendirian serta lebih banyak mengadu pada Allah semoga diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi ini semua (JUN, hal. 220)

Ya Rabb, kalau memang ini sudah jalanku, aku percaya bahwa Kau akan tetap menjaga dan memberikan apa yang terbaik untukku dan anakku (JUN, hal. 221)

Aku tak pernah merencanakan dan menginginkan ini. Aku hanya ingin kehidupan terbaik, bersamamu (JUN, hal. 240)

Naina, aku tak bisa menjanjikan hidup yang sempurna. Aku juga tak bisa menjanjikan semua isi dunia. Yang bisa kujanjikan hanyalah aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, untuk anak kita. Keluarga kita (JUN, hal. 243)

No comments:

Post a Comment

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, sobat! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...