Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

9 September 2016

Percayalah, Takdir tak Sejahat itu Padamu | Wedding Debt - Rati Natif, Book Tour

31118277



Hari itu tanpa sengaja, Nayla bertemu kembali dengan teman-temannya sewaktu SD. Mereka sengaja berkumpul saat masih dalam suasana lebaran. Cerita mengalir dengan lancarnya saat bertemu dan berkumpul. Canda tawa semuanya melebur menjadi satu. Walaupun beberapa temannya sudah menikah dan serta merta mengajak suami serta anaknya dalam reunion tersebut. Tapi, itu tak membuat hati Nayla kecil hati.

Hanya saja reuni tersebut tak lengkap karena ada yang tak bisa datang. Tak menjadi masalah untuk Nayla. Bisa bertemu kembali, berbagi cerita dan berkumpul bersama teman-teman SDnya sudah membuat hatinya senang.

Lama setelah masa reuni tersebut, tak sengaja ada satu moment dimana mengharuskan Nayla bertemu kembali dengan teman-teman SDnya. Kali ini dia bertemu kembali dengan teman sebangkunya yang saat reuni awal tak bisa datang karena masih diluar kota. Betapa senangnya hati Nayla bisa bertemu dengan Mira. Mira pun sempat memperlihatkan foto suami dan anaknya pada Nayla. Nayla senang, teman-temannya sudah mendapatkan kebahagiaannya.
  
Jujur, jauh di dalam hatinya dia ingin sekali seperti teman-temannya, menikah, memiliki anak. Tapi, jodohnya belum datang. Tak banyak yang tahu, jika sebenarnya Nayla masih mengharapkan seseorang yang pernah membuatnya jatuh cinta sekali lagi. Tapi, mungkin memang belum jodohnya. Lelaki itu lebih memilih seseorang yang lain. Nayla seolah menyalahkan takdir yang tak berpihak padanya.

Hingga, hari dimana salah satu sahabatnya semasa SD menikah, Dina dan Dani. Nayla bertemu kembali dengan Pram, lelaki yang pernah membuatnya jatuh cinta. Lucu bukan, hari dimana Nayla menyalahkan takdir yang tak berpihak padanya. Kali ini justru takdir seolah berpihak padanya. Terlebih saat Pram melamarnya di tengah-tengah pernikahan Dina dan Dani.

Saat takdir datang padamu walaupun itu untuk kedua kalinya, apakah kamu bisa menolaknya jika kamu dan dia memiliki kesempatan bersama?

Percaya atau tidak, takdir bekerja di saat itu terjadi, kamu tak akan bisa menolaknya. Walaupun jalan yang dilalui harus berliku. Setidaknya yang kita lakukan hanya percaya jika semuanya akan berakhir bahagia. Merasakan sakit di awal itu bisa kita jadikan pelajaran dan pengalaman. Dengan merasakan sakit kita bisa tahu bagaimana cara kita untuk bangkit kembali, berjuang melawan sakit tersebut. Dengan adanya sakit, kita jadi belajar untuk bangkit dan percaya jika akan ada jalan untuk bisa mendapatkan kebahagiaan.

Seperti itu juga yang terjadi pada Kinan dan Prasasti dalam Wedding Debt. Awalnya Kinan merasa takdir begitu jahat padanya. Tak bisa menyatukannya dengan Danny, orang yang dicintainya. Dan malah menyatukannya dengan Prasasti.

Walaupun Kinan menyalahkan takdir yang tak berpihak padanya, sama seperti Nayla, Kinan tak tahu jika kebahagiaannya tengah menghampirinya. Dan saat itu datang, Kinan tak bisa menolaknya sama sekali. Mungkin saja Kinan itu seperti aku, kamu, kalian semua. Yang selalu merasa takdir begitu jahat dan tak ingin berpihak pada kita. Tapi, sedikit saja kamu mau membuka mata dan hati kamu, percayalah, ada kebahagiaan yang menunggumu. Dan pasti disaat bahagiamu datang, kamu tak akan bisa menolaknya.

Kisah Kinan dan Prasasti dalam Wedding Debt membuktikan jika takdir akan bekerja dan kamu tak akan pernah bisa menolaknya.

Ada kebahagiaan yang menunggu di akhir kisah itu, dan itu akan terjadi jika aku, kamu dan kalian percaya.

=== GIVEAWAY TIME ===


Kalian mau mendapatkan 1 novel Wedding Debt yang dikirim langsung sama penerbit KataDepan? Caranya gampang banget lhooo :

1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia
2. Follow akun twitter @ratinatif dan @princessashr, kemudian share info GA ini dengan mention ke akun kita berdua dan jangan lupa sertakan hashtag #BookTourWeddingDebt
3. Follow akun Instagram Penerbit KataDepan, Like Fanpage KataDepan di Facebook
4. Follow blog ini bebas, bisa via Google + atau follow Instagram atau follow fanpage Peek A Book juga boleh *boleh salah satu, boleh ketiganya*
5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyertakan Nama, akun twitter, domisili, link share, dan jawabanmu yaa..

Percayakah kamu akan takdir? Tuliskan pengalaman kamu tentang takdir yang datang dalam hidupmu dan tak bisa kamu tolak dan akhirnya takdir tersebut membawamu dalam kebahagiaan.

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 9 – 10 September 2016 hingga jam 18.00 WIB. Pengumuman pemenang akan diumumkan 1 - 2 hari dari deadline. So, selamat mengikuti dan good luck yaa..

Percayalah, takdir yang tadinya kamu tolak akan membawamu dalam bahagia.

13 comments:

  1. Nama : Heni Susanti
    Akun : @hensus91
    Domisili : Pati - Jawa Tengah
    Link share : https://twitter.com/hensus91/status/774100201787097088

    Dulu aku menyesali keputusanku untuk kembali ke desa kelahiran selepas menempuh pendidikan. Impianku dulu adalah hidup mandiri dan tidak lagi bergantung pada orangtua, tapi saat ada tawaran untuk mengabdi di desa dan melepaskan impianku aku - entah bagaimana - tidak bisa menolak. Aku menerimanya dan mulai berjuang di sini.

    Awalnya - satu tahun pertama - pilihanku ini membuatku menyesal. Dengan kemonotonan hidupku, pekerjaan yang tidak sesuai persepsi dan passionku, hidup yang jauh dari jangkauan fasilitas dan sarana penyaluran hobiku. Rasanya sesak. Sulit. Tertekan.

    Lalu aku mulai berpikir bahwa perasaan yang muncul itu bukan karena lingkungan dan keadaanku, tapi lebih karena pikiranku sendiri. Aku menolak menikmati apa yang selama ini kujalani. Berpikir segalanya adalah beban. Berpikir kalau semuanya menyebalkan. Dan aku memilih mengubah pola pikirku. Aku tidak boleh menyesali pilihanku sendiri, karena itu berarti aku tidak mempercayai diriku sendiri dan jalan takdirku.

    Sekarang aku menikmati semua yang telah kupilih. Berbahagia dengan semua pengalaman yang dulu kuanggap monoton tapi ternyata selalu menghasilkan hal-hal baru. Aku bahagia dengan keberadaanku sekarang. Dan sudah tidak bisa lagi memikirkan bagaimana jadinya aku saat tidak berada di sini.

    Saat itulah aku percaya kalau takdir tidak sejahat itu :)

    ReplyDelete
  2. Widiyar Mayani
    @WidiyarMayani
    Bogor
    https://twitter.com/WidiyarMayani/status/774279911234162689

    Percayakah akan takdir???
    Pastinya percaya banget. Saat segala upaya dan doa sudah dikerahkan, hasil akhir lah yang merupakan ketetapan.

    Saya mau cerita pengalaman saya tentang jurusan kuliah yang saya ambil.
    Penghujung SMA biasanya jadi waktu yang paling "galau" untuk menentukan mau lanjut dimana, jurusan apa, dan lewat jalur mana saja. -Banyak banget metode seleksi PMB- itu. :D
    Singkat cerita, saya ikut PMDK -sekarang SNMPTN- jurusan Matematika di salah satu Univ Negeri, dan ternyata saya gak lolos.
    Oke, masih ada kesempatan lain. Saya ikut lagi UMB -Ujian Masuk Bersama- dan tetap memilih Matematika di Univ Negeri yang lain dengan harapan bakal diterima. Dan ternyata, masih belum lolos juga friends.

    Saya mikir, ini bisa jadi karena mak bapak saya kurang ridho kalau saya kuliah di luar kota meskipun itu jurusan yang saya pengen banget.
    Okeeee,,, fineeee.. Tes terakhir yang bakal saya ikutin, SNMPTN -sekarang SBMPTN- Saya pilih Univ Negeri di tempat saya aja, tapi aseli saya pilih jurusan lain yang ga ada hubungannya sama sekali sama matematika. Saya pilih Agronomi. Dan taukah?? Saya tetep gak lolos juga. Huhuhuu...

    Karena buat tes-tes itu perlu uang pendaftaran yang lumayan juga, akhirnya setelah diskusi, saya putuskan buat ya udah lah ya, mungkin bukan rezeki saya kuliah di Univ negeri. Akhirnya saya pilih Univ Swasta di kota saya dengan jurusan Matematika. Yeaaaayyy,, finally, waktu itu saya mikir "mungkin emang tetep di kota ini dan MTK itulah takdir gw."

    Akhirnya kurang dari 4 tahun saya telah menyelesaikan kuliah saya. Pernah jadi job hunter yang ditolak beberapa kali oleh perusahaan yang saya kirimkan CV, pernah freelance, pernah bekerja terus resign, coba apply CV lagi, menunggu panggilan lagi, sampai akhirnya ada CV yang "nembus" dan jadi kerjaan saya saat ini. Dan tahukah,, saat ini saya kerja jadi Staff Akunting. Padahal gak pernah tuh dari jaman dulu belajar akuntansi. Ya inilah yang namanya takdir. Mau jalan2 kemana2 dulu juga kalau akhirnya Tuhan pengen kamu menjadi "sesuatu yang lain", ya kamu bakal jadi sesuatu sesuai sama yang Tuhan inginkan.

    Sekarang saya ingin menikmati dulu, gak mau protes terus sama Tuhan atas perjalanan hidup saya. Bersyukur, menerima yang semesta tuliskan. InsyaAllah kalau memang jalan saya balik ke asal saya di Matematika, gimana pun caranya, saya bakal balik lagi kesana.

    Wahaahhhhaaa,, panjang bener ya curhatnya??? Oke, Mari menikmati takdir.

    ReplyDelete
  3. Nama: Diah P
    Twitter: @She_Spica
    Domisili: Bekasi
    Link share: https://twitter.com/She_Spica/status/774382231229902848

    Takdir yg pernah terjadi di hidupku dan kutolak mati2an adalah kematian ayahku krena kecelakaan mobil ketika umurku 6 tahun. Dulu mungkin aku tidak mngerti apa2 krena mash kecil, dan yg kutahu hanya kesedihan dan tangisan krena kepergian beliau.
    Namun trnyata akibat kmatian ayah otomatis ibuku yg semula hnya seorng IRT pun berubah setir mnjadi kepala rumah tangga.
    Aku dan kakak brkali2 terancam tidak bisa mlanjutkan sekolah akibt biaya. Setiap momen kelulusan SD dan SMP kami selalu brtanya2, apa kami bisa mlanjutkan ke jenjang berikutnya atau tidak? Dan pd akhir2nya kami hanya menyesali kematian ayah yg trlalu cepat namun tak bisa kami tolak.
    Kl melihat aku yg sekrg, sudh lulus kuliah dan bkerja dgn nyaman, dan kakak yg sudh menikah dgn bhgia mnjadi IRT, rasa2nya mengingat kenangan itu terasa mnyakitkan. Tp justru sekrg kami banyak2 bersyukur sekali. Kami yg hanya memiliki ibu bs menyicip sekolah smpai bangku kuliah, smntara ad banyak sekali orng berada di sekitar kami namun menyia2kan sekolah dan malah brbuat ulah yg berakibat mereka menikah muda dan trjebak dlm pernikahan yg tak diinginkan. Ad banyak sekali kasus itu di lingkungan saya.
    Jadi meskipun kematian ayah masih mnjadi duka smpai sekarg, namun hikmah dari kematian beliau bgtu manis kurasakan. Dimana kami bljar untuk perih, mandiri, dan berusha keras demi mncapai hidup yg lebih baik lg. Aku, kaka maupun ibu, skrg tidk lg ketakutan2 akan takdir menyedihkan kematian ayah. Kami kini hanya bisa brdoa untuk kebahagiaan beliau di dunia lain sana, sementara kami di sini selalu mnemukan kbhagiaan2 yg kami ciptakan sendri, yg pd akhirnya selalu mmbuat kami brsyukur akan moment2 mmbahgiakan yg tercipta akibat krja keras tersebut.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. Anonymous07:49

    Nama : anis
    Twitter: @ChrysAppx
    Dom: bekasi
    Link share
    https://twitter.com/ChrysAppx/status/774405582065274881

    Takdir yang awalnya saya tolak kemudia membawa kebahagiaan adalah pada saat saya dijodohkan.
    Awalnya saya tolak karena saya tidak mengenal calon saya sama sekali, saya marah karena orangtua saya tidak membicarakan tentang ini dengan saya dan memutuskan sepihak,akhirnya setelah saya meminta petunjuk kepada Allah SWT dan meminta nasehat sama kakak dan para sepupu saya akhirnya saya terima perjodohan itu, dan saya berfikir itu salah satu cara saya membalas Kasih sayang kedua orangtua saya dengan mengabulkan harapan mereka, dan pilihan orangtua memang tidak akan pernah salah dan alhamdulillah calon suami yang sekarang menjadi suami saya itu orang yang bertanggung jawab, tidak pernah meminta sesuatu yang saya tidak bisa,mertua saya pun ternyata baik... sekali,dan sekarang saya sudah siap mengarungi kehidupan rumah tangga dengan bahagia...

    Itulah daktir yang awalnya saya tolak tapi akhirnya membawa kebahagiaan bagi saya dan keluarga.

    Terima Kasih Giveawaynya....

    ReplyDelete
  5. Nama : Lendy K. Reny
    Twitter : @lendymut
    Domisili : Bandung

    Link : https://twitter.com/lendymut/status/774414674334932992



    Tak pernah terbayangkan saya menjadi Ibu Rumah Tangga.
    Iya, HANYA seorang Ibu Rumah Tangga.

    Profesi dimana semua perempuan bisa menyandangnya jika sudah menikah lalu kemudian mempunyai anak.


    Itulah takdir yang saya jalani saat ini.


    Titel yang saya banggakan, saya tanggalkan begitu saja demi profesi yang menjadi takdir saya.
    Almamater yang dulu sangat saya puja-puji, saya lupakan saat ini.

    Hari-hari saya dipenuhi dengan rutinitas harian yang tiap hari akan berulang dan berulang.
    Bangun tidur dini hari, memasakkan sarapan dan bekal untuk suami dan anak-anak lalu menyiapkan baju. Bagitu anak terbangun, mulai memandikan mereka satu per-satu.

    Lelah raga ini?

    Tentu.


    Lelah jiwa ini?

    Pasti.


    Lalu apa yang saya dapatkan dengan pekerjaan ini?

    Dengan berbekal keyakinan, saya berharap semua lelah saya saat ini berbuah ridlo suami dan berbuah manis di surga kelak.


    Tak apalah takdir membawa saya HANYA menjadi Ibu rumah tangga.
    Tak apalah kalau setiap hari saya hanya menjalankan rutinitas demi rutinitas yang kadang membuat saya jenuh.
    Tak apa....


    Mama bahagia, nak...
    melihat kalian tumbuh kembang dengan baik dan sehat.
    Buat mama, tidak penting diri mama saat ini.
    Doa mama hanya tercurah untuk kalian, anak-anak mama yang cantik.


    Semoga Allah ridlo.
    Aamin.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Irma anggraeni
    @irmanggraeni25
    Bandung
    https://mobile.twitter.com/irmanggraeni25/status/774504810854744064?p=v



    Kalau boleh memilih takdir aku tidak ingin lahir dari keluarga seperti ini, kalau kalian tanya orang tua ku bercerai? Tidak orang tua ku tidak bercerai, aku masih mempunyai ibu dan ayah. Dari dulu aku selalu berpikir kenapa takdir menuntutku untuk lahir dari keluarga ini, ibu sama ayah ku terkesan cuek tapi aku tau mereka pasti menyayangiku. Ibu ku lumayan egois kalau keinginan nya tidak dipenuhi pasti dia uring-uringan contoh nya kaya sekarang ibu sama ayah ku sedang bertengkar, dalam hati aku selalu ngomong "kenapasih harus berantem di depan anak, engga mikirin perasaan anak nya emang" tapi aku engga berani ngomong langsung cuma bisa diem. Kadang kalau suasana nya kaya gini aku cuma bisa diem tutup telinga, suka pengen pergi dari rumah karena suasana luar lebih nyaman daripada susana rumah. Setiap ngedenger temen cerita dia sama ibunya suka curhat-curhatan cerita ini cerita itu terkadang akumerasa iri, sedangkan aku ngobrol aja jarang kalau lagi deketan cuma diem dieman. Aku selalu mikir apa orang tua teman-teman ku sama seperti orang tua ku?. Ketika aku sedang curhat curhatan dengan temanku, ternyata keluarga temanku lebih parah orang tua nya sudah bercerai ketika dia masih kecil dia anak broken home untung nya dia tidak terjerumus sama hal hal negatif seperti kebanyakan anak broken home lain nya. Di situ aku mikir harusnya aku bersyukur keluarga ku masih utuh walau ibuku sering cekcok sama ayah, marah marah setiap hari. Walau begitu aku bahagia punya mereka, mereka selalu ada buat aku di saat semua orang mulai menjauh, mereka yang selalu nyemangatin aku kalau aku lagi ada di titik paling bawah. Karena seberapa besar usaha kita melawan takdir engga akan bisa , takdir engga akanbisa di ubah

    ReplyDelete
  8. Irma anggraeni
    @irmanggraeni25
    Bandung
    https://mobile.twitter.com/irmanggraeni25/status/774504810854744064?p=v



    Kalau boleh memilih takdir aku tidak ingin lahir dari keluarga seperti ini, kalau kalian tanya orang tua ku bercerai? Tidak orang tua ku tidak bercerai, aku masih mempunyai ibu dan ayah. Dari dulu aku selalu berpikir kenapa takdir menuntutku untuk lahir dari keluarga ini, ibu sama ayah ku terkesan cuek tapi aku tau mereka pasti menyayangiku. Ibu ku lumayan egois kalau keinginan nya tidak dipenuhi pasti dia uring-uringan contoh nya kaya sekarang ibu sama ayah ku sedang bertengkar, dalam hati aku selalu ngomong "kenapasih harus berantem di depan anak, engga mikirin perasaan anak nya emang" tapi aku engga berani ngomong langsung cuma bisa diem. Kadang kalau suasana nya kaya gini aku cuma bisa diem tutup telinga, suka pengen pergi dari rumah karena suasana luar lebih nyaman daripada susana rumah. Setiap ngedenger temen cerita dia sama ibunya suka curhat-curhatan cerita ini cerita itu terkadang akumerasa iri, sedangkan aku ngobrol aja jarang kalau lagi deketan cuma diem dieman. Aku selalu mikir apa orang tua teman-teman ku sama seperti orang tua ku?. Ketika aku sedang curhat curhatan dengan temanku, ternyata keluarga temanku lebih parah orang tua nya sudah bercerai ketika dia masih kecil dia anak broken home untung nya dia tidak terjerumus sama hal hal negatif seperti kebanyakan anak broken home lain nya. Di situ aku mikir harusnya aku bersyukur keluarga ku masih utuh walau ibuku sering cekcok sama ayah, marah marah setiap hari. Walau begitu aku bahagia punya mereka, mereka selalu ada buat aku di saat semua orang mulai menjauh, mereka yang selalu nyemangatin aku kalau aku lagi ada di titik paling bawah. Karena seberapa besar usaha kita melawan takdir engga akan bisa , takdir engga akanbisa di ubah

    ReplyDelete
  9. Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Domisili : Purwakarta
    Link Share : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/774318957608132608?p=v


    Percayakah kamu akan takdir? Tuliskan pengalaman kamu tentang takdir yang datang dalam hidupmu dan tak bisa kamu tolak dan akhirnya takdir tersebut membawamu dalam kebahagiaan.



    Percaya.

    Aku anak kedua dari 3 bersaudara, kakakku laki-laki dan adikku perempuan, dan aku bukan berasal dari keluarga berada. Patokanku cuma satu, belajar yang giat biar kedepannya jalan untuk meraih cita-cita terbuka lebar. Bisa masuk SMA favorit dan dapet beasiswa dari salah satu PTN ternama di Jakarta siapa yang tidak bahagia, aku pikir selangkah lagi untuk bisa membahagiakan dan membantu kedua orang tuaku. Tapi apa mau dikata, saat seleksi aku ga lolos, dan memilih menunda kuliah di tahun berikutnya dengan catatan, tetap belajar selama satu tahun. Begitu tahun berikutnya tes, aku coba ambil PTN di Bandung, alhamdulillah tes kali ini diterima, bahagia sekali. Bagaimana tidak, 5 kali tes total semuanya dengan tahun sebelumnya, 4 kali tes untuk PTN di jakarta gagal semua. Tapi kendala masih ada, yaitu finansial, sedangkan kakakku juga butuh melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, saat itu kakakku hanya baru lulusan D3 dan untuk bekerja di kota besar seseorang dengan basic seperti itu seringkali kurang dilihat. Aku berpikir, jika aku kuliah, kakakku ga akan bisa kuliah, tapi jika kakakku yang kuliah, dia bisa membantu keluarga, ditambah dia akan menjadi kepala keluarga nantinya. Akhirnya setelah dipikir matang-matang, lebih baik aku yang tidak kuliah dibandingkan kakakku, sedih pastinya, setelah berusaha keras dan latihan soal terus menerus. Tapi apa boleh buat, harus ada yang mengalah, tapi jika kakakku yang mundur, kasian sekali. Kakakku yang akan membantu ayahku untuk menjadi tulang punggung keluarga.

    Setelah batalnya kuliah, aku mencari kegiatan lain yang sekiranya bisa menyibukkan diri. Akhirnya aku malah menemukan kemampuan lain didirikku, bisa melukis, mendesign baju dan menjadi seorang tukang henna yang bisa mendapatkan penghasilan. Dan aku menyukai itu semua. Disatu sisi aku punya kebahagiaan lain, di sisi lain keluargaku juga bahagia dan tercukupi semuanya karena bantuan kakakku.

    Mungkin memang sudah takdirnya aku tidak kuliah dan mendapatkan rasa sedih yang besar. Tapi sekarang aku bisa bersyukur atas itu semua. Bisa tau kemampuanku yang lain yang masih terpendam saat itu, yang mungkin jika aku kuliah aku tidak dapat menggali itu semua.


    Meski di awal seringkali menolak untuk menerima, tapi akhirnya aku tau, jika setiap orang boleh berencana, boleh berkehendak, tapi Tuhan lah yang menentukan hasil akhirnya.

    Karena takdir Tuhan jauh lebih baik dan lebih indah.

    ReplyDelete
  10. Nama : Yulia Yunararizky
    Twitter : @yuliayunarar
    Domisili : Tangerang
    Link Share : https://twitter.com/yuliayunarar/status/774532397526233088
    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1241812219216198&id=100001622948165

    Aku percaya takdir, walaupun terkadang sangat sulit untuk menerimanya. Takdir yang sangat sulit aku tolak adalah pada saat saya mengetahui nilai akhir kelulusan saat SMP saya tidak seperti yang saya harapkan alias nem saya pas-pasan dan kecil diantara teman-teman saya yang lain. Saya sangat sedih karena saya tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang saya inginkan. Kecewa, pasti. Karena sudah 2x kejadian itu terulang. Tetapi Alhamdulillah sekarang saya sangat bersyukur karena hal tersebut. Takdir tersebut membawa saya pada sahabat-sahabat yang selalu mendukung saya dalam suka maupun duka. Dan karena takdir tersebut saya bisa melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Keguruan yang saya idam-idamkan sejak kecil. Sekarang saya paham, Tuhan menakdirkan saya dengan nilai yang pas-pasan karena ingin menguji kesabaran saya dalam menghadapi ujian dari-Nya dan Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya :)

    ReplyDelete
  11. Nama: Dwita Andhara
    Akun twitter: @dwitaandhara
    Domisili: Makassar
    Link share: https://twitter.com/dwitaandhara/status/774535757075668992
    Jawaban:

    Saya percaya takdir tapi kalau ditanya pengalaman, saya agak bingung mau ceritain yang mana. Tapi bagi saya takdir yang tidak bisa di tolak dan membawa kebahagiaan dalam hidup saya adalah bisa hadir di tengah keluarga saya sekarang ini. Walaupun gak bisa dipungkiri saya suka ngeluh mama yang terkadang cerewet, papa yang agak keras dan kakak serta adik yang kadang kala gak akur dengan saya tapi di sisi lain masih banyak kelebihan dari masing-masing mereka yang harusnya saya syukuri dibanding secuil keluhan-keluhan saya tersebut. Intinya sih perbedaan, negatif thingking dan apapun itu gak boleh buat kita jadi gak bisa bersyukur karena bagaimanapun itu semua adalah takdir yang nantinya bisa jadi pengalaman yang sangat berharga.

    ReplyDelete
  12. Nama : Dewa Ayu Riska
    Akun twitter : @dewayuriska
    Domisili : Denpasar
    Link share : https://twitter.com/dewayuriska/status/774412603569283072
    Jawaban : Percaya. Saya itu dari TK sampai sekarang belum pernah nemuin yang namanya 'teman'. Yang bener-bener teman, yang biasa diajak bareng kemana-mana gitu. Ini selalu terjadi. Pengen punya temen yang lama-lama jadi sahabat tapi nggak pernah terwujud. Jadi saya itu merasa kayak cadangan, disaat orang lain nggak ada, maka saya akan dianggap dan begitu juga sebaliknya. Serasa bola yang dioper kesana-kemari tapi nggak sampai ke gawang (red: tujuan). Ngambang kayak daun diatas sungai. Sendirian pula. Tapi 1 tahun belakangan saya sudah nggak terlalu mikirin hal ini karena, akhirnya saya menemukan apa yang saya inginkan.

    Ceritanya, waktu itu diajak Ibu ke Gramedia, pada saat itu saya belum mengetahui apa itu Gramedia. Begitu sampai disana akhirnya saya tahu apa itu Gramedia. Dalam hati bilangnya, "Oh, toko buku ternyata." Dulu saya nggak suka sama yang namanya buku, serasa punya phobia sama buku. Males aja gitu liat buku. Ternyata eh ternyata Ibu saya beliin saya novel. Buku yang tebalnya kira-kira 300 halaman. Langsung mikir 'Buku pelajaran yang tebelnya cuma 50 aja jarang dibaca, apalagi yang tebalnya kayak gini', Apalagi itu novel terjemahan dan genrenya fantasi, makin nggak ngerti lah saya. Dan tercetuslah rasa benci terhadap novel dan kawan-kawan.

    Tapi, akhirnya saya menjilat ludah sendiri. Sungguh tak terduga. Setahun kemudian saya mulai beli novel, mulai ngumpulin uang bahkan sampai nggak jajan di kantin sekolah :') Semenjak inilah saya serasa menemukan teman saya yang tlah lama tak kunjung datang. Hidup saya serasa ada manis-manisnya gitu. Yang dulunya cuma menyendiri, sekarang eh ada yang nemenin. Iya, saya orangnya suka menyendiri, apa-apa sendiri. Tapi itu hanya masa lalu. Jadi sekarang sudah nggak kayak gitu lagi. Semoga hal yang satu ini bisa terlaksana hingga saya menua nanti.

    ReplyDelete
  13. Nama : Fakhrina FM
    Twitter : @fakhrina_fm
    Domisili : Probolinggo
    Link share : https://twitter.com/fakhrina_fm/status/774624450436141056
    Jawaban :
    Percaya takdir apa tidak? So pasti, percaya banget. Takdir udah seperti senyawa aja. Pasti ada dalam kehidupan.Untuk takdir yang alami, tidak bisa kutolak, yaitu ketika masih kelas 5 sd. Sedang asyik asyiknya mengkreketi pelok mangga (membersihkan biji mangga) tukkk, gigi depanku coklek, patah, bagian pinggir. Kagetnya setengah mati, waktu itu santai-santai aja. Tidak langsung ke dokter gigi. Kebetulan saya tidak suka dengan yang namanya dokter. Setelah beberapa tahun berlalu, tak terasa saya sudah smp. Dimana gigi tersebut tambah lebar dan hitam. Perasaan malu pun ada. Karena itu gigi bagian depan bolongg. Karena paksaan orang tua, akhirnya saya menuruti. Saya dan keluarga saya pergi kedokter gigi untuk menambal gigi saya. Butuh 2 kali kontrol supaya hasilnya maksimal. Alhamdulillah hal tersebut membuat saya senang sekarang. Saya sudah tidak malu lagi karena gigi depan saya sudah tidak bolong dan hitam lagi ^^ wish me luck

    ReplyDelete

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, sobat! :)