Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

26 September 2017

Glaze - Windry Ramadhina | Blog Tour, Bincang Santai



Holaaaa..

Ketemu lagi sama aku. Udah lama yaa nggak menyapa sobat Peek A Book di sini. Kali ini aku mau jujur dulu yaa. Tapi, emang selama ini aku jujur sih. Pertama kali lihat cover beserta blurb dari novel ini udah bikin aku penasaran setengah mati. Apalagi judulnya. Kenapa? Judulnya singkat, padat dan jelas. Glaze. Eh ada lanjutannya di bawahnya, Galeri Patah Hati Kara & Kalle. Padahal udah rencana beli novel ini bulan ini, ceritanya mau beli 2, satunya mau dibuat GA. Tapi, Alhamdulillah dapat amanah dari Penerbit Twigora, termasuk penerbit kesayangan lho. Sukaaa! Dan, berhubung aku baru satu kali baca novel karya kak Windry Ramadhina, Orange, dan aku udah jatuh hati sama ceritanya. Bikin nagih, susah move on, dan bikin baper abis, imajinasiku langsung kemana-mana.

Saat diberikan kesempatan untuk bertanya kepada kak Windry Ramadhina, nggak disia-siakan dong yaa pastinya. Akhirnya, sebagai pemilik blog Peek A Book, aku berhasil mengajak kak Windry buat menikmati senja di sore hari sambil nanya-nanya.

Adakah disini yang belum mengenal kak Windry Ramadhina? Seriusan belum mengenal kak Windry Ramadhina? kak Windry Ramadhina ini penulis yang jago bikin pembacanya baper abis lho saat baca ceritanya. Entah terbawa akan ceritanya atau memang samaan dengan kisah hidupnya, pasti ada aja yang bikin baper.

  
Dalam proses penulisan Glaze, apakah ada kendala yang berarti? Kalau iya, apakah itu, kak Windry?

Elemen yang paling saya perhatikan selama penulisan Glaze adalah sudut pandang cerita. Saya menggunakan dua sudut pandang orang pertama, yaitu milik Kara dan Kalle. Mereka menyampaikan cerita secara bergantian. Ini kali pertama bagi saya, jadi ada banyak proses pembelajaran agar saya dapat melakukannya dengan baik.

Bagi saya, memakai dua sudut pandang orang pertama bukan sekadar mengganti "aku" dengan "gue"--seperti yang kerap saya temukan di beberapa buku. Saya ingin suara Kara dan Kalle tidak hanya bisa mewakili karakter mereka secara jelas, tetapi juga dapat diidentifikasikan oleh pembaca bahkan sejak kata pertama. Suara mereka harus berbeda di banyak hal. Bagaimana mereka memandang sesuatu dan menggambarkan seseorang, preferensi mereka, cara mereka bernarasi, pilihan kata mereka, hingga bentuk kalimat mereka (panjang, pendek, terstruktur, dll).

Itu boleh dibilang kendala, bisa juga dianggap. Tantangan memiliki sisi menarik yang bisa mendorong penulis berusaha lebih dari biasanya. Dan, yang paling menarik dari penggunaan dua sudut pandang orang pertama adalah elemen bias. Distorsi. Bahwa informasi yang disampaikan oleh Kara dan Kalle mengenai satu hal bisa sangat berbeda. Ini yang saya rasa kurang dimanfaatkan oleh banyak penulis. Dan, saya ingin mencobanya lewat Glaze.


Apakah kak Windry memiliki strategi khusus dalam mempromosikan novel-novel kakak di tengah-tengah makin banyaknya penulis baru saat ini. Bagaimana cara kak Windry untuk bisa berbeda dengan penulis lainnya? Apakah ada ciri khas dari kak Windry agar pembaca senantiasa membaca karya kakak?

Sejak dulu, saya menulis untuk ekspresi. Saya selalu berusaha jujur saat menulis, menjadi diri sendiri. Saya tidak terlalu mahir mengikuti arus zaman dan saya justru bersyukur akan hal itu. Saya selalu percaya, dengan menulis apa yang sungguh-sungguh saya pedulikan, dengan memasukkan sebagian diri saya ke cerita, dengan sendirinya buku saya akan berbeda dari buku lain. Buku saya tidak akan memuaskan semua pembaca, tetapi selalu ada jodoh untuk sebuah buku. Dan, saya ingin pembaca saya adalah orang-orang yang memahami saya, yang menerima saya.

Saya suka nuansa sendu dalam buku saya, tetapi saya juga suka kehangatan sebuah rumah dan keluarga. Saya suka bercerita tentang kehilangan tetapi juga tentang harapan. Saya suka alur yang lembut dan tempo yang perlahan. Dan, saya suka mendapatkan pembaca yang menikmati hal-hal tersebut.

Glaze kan membahas mengenai galeri patah hati Kara dan Kalle. Menurut kak Windry sendiri, definisi patah hati itu gimana sih?

Saya rasa, patah hati adalah saat ketika kita paling sangat membutuhkan harapan. Jika kita patah hati, lalu tidak melihat sedikit pun harapan, barangkali kita akan hancur. Jadi, walaupun ini terkesan terlalu naif, saya ingin buku-buku saya memberikan harapan tersebut. Saya selalu berpendapat bahwa di setiap kisah sendu, harus ada sesuatu di dalamnya yang bisa menghangatkan hati pembaca. Saya benci meninggalkan pembaca dalam kesenduan. Saya ingin berkata kepada mereka, "Kamu akan baik-baik saja."

Ada adegan favorit kak Windry nggak di cerita ini? Kalau iya, apa nih adegan favorit kakak apa nih?

Adegan kesukaan saya dalam Glaze ada di bab kelima belas dan keenam belas. Saya pribadi sangat menyukai interaksi Kara dan Kalle di bagian tersebut. Kara memiliki karakter yang sangat khusus sehingga tidak setiap adegan romantis bisa cocok untuknya. Dia tidak bisa dibawa ke tingkat yang terlalu hangat. Jika ditinggalkan di tingkat terlalu manis, dia akan terjebak dalam sifat kekanak-kanakan. Ya, sedikit tricky. Jadi, saya bahagia bisa menemukan gaya hubungan yang--menurut saya--sempurna untuk dia dan Kalle.

Di sisi lain, ini adalah momen ketika emosi Kalle tersampaikan dengan sangat kuat. Kebingungannya, kegelisahannya, ketakutannya, rasa inginnya; semua ada di adegan tersebut. Ini adalah ketika pertahanan Kalle yang punya karakter dingin dan penuh kendali diri runtuh. Dan, saya selalu menyukai momen semacam itu di cerita.

Ada tips nggak, kak, bagaimana caranya membuat satu karakter tokoh novel yang kakak tulis ini bisa bikin pembaca jatuh cinta dan penasaran setengah mati. Soalnya aku suka gampang jatuh cinta sama cogan, cogem, coman, cobron, cowok-cowok lainnya dalam novel.

Yang saya lakukan selama ini hanya satu: jatuh cinta kepada tokoh saya sendiri. Sederhana saja. Saat penulis jatuh cinta, dia akan menularkan emosi itu kepada pembaca. Agar bisa jatuh cinta, saya hanya menampilkan karakter yang memang saya sukai. Selanjutnya, hanya masalah teknis. Seperti, misalnya, mendalami karakter dan mengembangkannya secara detail. Karena, percuma mencintainya jika tidak bisa menggambarkannya secara tepat. Emosi jadi tidak bisa ditularkan.

***

Gimana nih bincang santai kali ini bareng kak Windry Ramadhina? Asyik banget kan yaa? Jadi tambah nggak sabar nih buat baca cerita kak Windry Ramadhina selanjutnya. Kira-kira tema apa yaa yang bakalan kak Windry Ramadhina tulis selanjutnya, terus endingnya gimana yaa? 

Makasih banyak, kak Windry Ramadhina, sudah bersedia meluangkan waktunya buat nemenin menikmati senja sambil aku bisa nanya-nanya juga.  Semoga dengan ini bisa menjadikan kita makin akrab yaa, kak. Semoga bisa meet up juga yaa. 

Asyikkk, kelar sudah bincang santai Peek A Book bersama dengan kak Windry Ramadhina. Don't go anywhere, karena habis ini masih ada review novel Glaze : galeri patah hati Kara & Kalle yang akan tayang  dan ada Giveaway Glaze yang pastinya udah kalian tunggu. So, stay tune yaa only on Peek A Book.

***

26 – 27 September: Asri Rahayu MS

28 – 29September: Afifah Mazaya

30 September – 1Oktober : Putri Utama

1 – 2 Oktober: Bintang Permata Alam

3 – 4 Oktober: Sri Sulistyowati

5 – 6 Oktober: Farida Endah

7 – 8Oktober: Wardahtuljannah
  
Rangkaian blog tour kali ini diikuti oleh 7 blogger buku yang masing-masing mewawancarai dan mengadakan giveaway novel  Glaze mulai 26 September – 7 Oktober 2017. Buat sobat Peek A Book yang penasaran dengan Bincang Santai bersama kak Windry Ramadhina, monggo langsung saja mampir ke blog-blog tersebut di atas. Siapa tahu lhoo, keberuntungan kemenanganmu ada di situ. Semangat! 

Biar makin penasaran, aku kasih intip dikit yaa soal Glaze.. Udah siap ngintip?


***
Tentang Penulis :

WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; pencinta kucing hitam dan segala hal yang berbau seni. Dia menulis fiksi sejak 2007. Glaze adalah bukunya yang kesepuluh. Sebelum itu, dia menerbitkan Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), dan Montase (2012), London (2013), Interlude (2014), dan Walking After You (2014), Last Forever (2015), dan Angel in The Rain (2016).

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@yahoo.com, Twitter @windryramadhina, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com

2 comments:

  1. I'm still waiting kakkk 😁 penasaran banget sama cerita ini

    ReplyDelete
  2. Aku suka tulisan kak windry dan dibalik tulisannya. Terus ilustrasi-ilustrasi yang dibikin. Buat aku penasaran buat baca.

    ReplyDelete

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, sobat! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...