Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

12 June 2018

Rating Usia di Buku, Penting Nggak sih?


Holaaa..

Peek A Book balik lagi di blog. Apa kabar kalian semua? Masih ada yang suka mampir ke blog ini nggak? Libur panjang dan sebenarnya nggak begitu suka sih sama yang namanya kelamaan libur. Rasanya bingung aja mau ngapain gitu di rumah. Ya, walaupun banyak yang dikerjain, tapi tetep aja sih, bingung habis itu mau ngapain lagi. Teman-teman udah pada balik ke kampung halaman. Mau ngabuburit di, angkat tangan deh. Nggak sanggup kalau harus macet-macetan gini.

Jadi, kali ini aku mau sharing soal rating usia di sebuah novel. Kenapa pingin nulis ini? Karena eh karena, banyak anak-anak yang belum cukup usia, baca buku yang harusnya dibaca sama kakaknya, atau ortunya mungkin. Kan bikin miris hati, terus bikin lapar kan yaaa.
  
By the way, mau nanya nih sama sobat Peek A Book semua. Ada yang suka beli buku hanya baca blurbnya atau lihat covernya tanpa tahu isi ceritanya gimana nggak? Atau ada yang suka beli buku, tertarik karena baca blurbnya, dan udah tahu isi ceritanya gimana, dan untuk usia berapa, tapi tetep nekat beli, padahal itu untuk usia 21+ atau 25+. Ayo, ngaku, hayooo. Tell me, let me know yaa. Sok atuh, kalau mau curhat, dipersilahkan.

Jadi, begini, kenapa rating di sebuah novel itu penting banget  diberikan, atau ditulis? Menurut aku karena biar pembaca nggak salah baca buku yang seharusnya belum dibolehin di usia mereka buat baca buku tersebut.

Follow Instagram >> Peek A Book
 
Ada beberapa penerbit yang memang sudah memberikan tulisan di back cover, buku terbitan mereka teruntuk usia berapa saja. Semisalnya saja, buku A diperuntukkan untuk usia 15+, buku B diperuntukkan untuk usia 17+ atau ada juga yang langsung ditulis bahwa buku tersebut untuk dewasa. Menurut aku lagi, usia dewasa adalah di usia 21+ atau 25+. Gimana menurut kalian?

Well, kenapa aku pingin sharing masalah ini. Karena, aku pernah mengalami dilema saat melihat sekumpulan anak SMP saat aku jalan-jalan ke satu toko buku di kota tempatku tinggal. Aku melihat salah satu dari mereka, mengambil satu buku dimana aku tahu itu buku isi ceritanya ada banyak adegan dewasanya. Antara galau mau kasih tahu buat nggak beli atau nggak nggak kasih tahu, bener-bener posisi galau, dilema banget waktu itu. 


Saat ini ada beberapa platform menulis yang bisa digunakan banyak orang untuk menyalurkan hobi atau profesi mereka menulis disana. Dan nggak hanya satu atau dua, tapi yaa lumayan banyak, ada cerita dewasa yang bertebaran disana. Aku nggak mau munafik, aku juga suka baca cerita dewasa, tapi yang menurutku masih dalam batasan normal alias nggak terlalu vulgar banget. Ada yang bikin miris banget sebenarnya, beberapa tulisan cerita dewasa tersebut ditulis sama mereka yang masih usia remaja, kisaran SMP. Ada juga kategori remaja di tulisan tersebut tapi ternyata setelah dibaca ada beberapa adegan dewasa. Boleh ngelus dada ayam goreng nggak kalau kayak gini? Ehm, perbedaan antara yang nulis masih usia remaja sama yang udah dewasa, aku nemuin perbedaannya. Kalau yang nulis cerita dewasanya, usia dewasa, adegannya nggak begitu vulgar, nggak ada penjabaran sama sekali. Kalau yang nulis usia remaja, dijabarin banget. Can you imagine that? Kalau menurut kalian gimana? Ada yang bisa kasih tahu perbedaannya nggak?

Aku hanya bisa berpesan, bacalah sesuai usia kamu. Kalau usia kamu masih remaja, carilah bacaan yang remaja juga. Jangan paksain diri kamu buat baca yang belum sesuai usia kamu. Kenapa? Lebih enak kan kalau baca yang sesuai usia. Yang paling enak dan aman memang yang udah usia 21+ atau 25+ bisa baca bacaan dari usia berapa aja.

Sebuah cerita sudah ada pembacanya sendiri. Iya itu benar. Tapi, ada baiknya lagi, apabila pembaca juga bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia masing-masing. Jangan sampai bacaan yang kamu baca menjadikan kebiasaan di dalam kehidupanmu sehari-hari, menjadi candu untuk kamu melakukan hal yang sama dengan apa yang ditulis di cerita tersebut, menjadi kebiasaan kamu dalam menjalani hidup kamu, atau membuat imajinasi kamu yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang sesuai usia kamu, tapi sudah diisi dengan imajinasi yang nggak-nggak.

Setiap penulis memiliki pesan tersendiri dalam menuliskan sebuah cerita, depends on kita pembaca dalam menyikapi pesan tersebut bukan? Cukup tayangan TV aja yang sekarang ini banyak ditiru sama anak-anak kecil generasi bangsa. Jangan sampai buku yang harusnya belum boleh dibaca sama anak-anak kecil, usia SD, SMP, SMA ditiru juga.

So, disini adakah yang memiliki pendapat lain mengenai rating usia dalam sebuah buku? Share with me and kita diskusi bersama yuk. Dan aku nggak akan pernah bosan buat bilang ini sama kalian, sobat Peek A Book. Jangan lupa untuk tetap membaca, menuliskan review dengan bahasa sopan dan anti SARA, berikan kritikan yang membangun, bukan yang menjatuhkan. Tetap bahagia yaa. Sebarkan virus membaca dan bahagia kepada teman-teman yang lain.

6 comments:

  1. Buat aku sih penting ya. Sama aja kaya film. Biar bisa dinikamti sesuai dengan usia target pembaca

    ReplyDelete
  2. Setuju banget kak. Setidaknya dengan ditulis rate usia nya, pembaca yang bijak bisa memilih untuk tidak mengambil bacaan tersebut. Tapi pasti di satu sisi, ada saja yang sudah ditulis rate usia nya dan sang pembaca malah mengabaikannya atau gak diperhatikan sama sekali? Agak susah juga gak sih kak?

    ReplyDelete
  3. Iyae, ya. Penting kategori usia dicantumkan pada bacaan.

    Saya pernah baca cerita dewasa yg tulis anak SD. Rwme tuh waktu itu. Ya Allah. Aneh2nya, sebagian orang dewasa yh baca malah memuji, bukannya ngasih tahu kalo itu belum pantas. Soalnya ada yg menggambarkan hub intim suami-istri. ��

    ReplyDelete
  4. Iya sangat miris melihatnya, namun disisi lain memang kreatifitas bisa di ekspresikan oleh segala umur, mungkin kalo umur remaja membuat cerita tersebut lebih vulgar dibanding usia dewasa. Mungkin sebaiknya ada lembaga sensor buku kali yaa...kayak film ada lembaga sensornya hehee...justopinion

    ReplyDelete
  5. penting banget kak, kadang aq sempat berfikir mungkin nggak sih suatu saat nanti kalau beli buku harus nunjukin KTP atau setidaknya dr pihak toko buku memberi batasan atau larangan kalau buku ini memang gak boleh di baca anak di bawah umur, atau kalau nggak gitu ya dr penerbitnya. ....setuju smaa kak @Syirhanna ada lembaga sensornya , tp tetap harus di dukung penuh juga oleh penerbit dan toko bukunya...
    .
    .
    .
    kalau beli cukup baca blurb dan covernya kak, kalau rating nggak da maslaah karn kan memang usianya bisa baca segala usia.. ha ha ha

    ReplyDelete

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, sobat! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...