Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

14 August 2018

Overtime - Nathalia Theodora | Teaser 1



Holaaaa..

Ketemu lagi sama aku. Kali ini aku mau bagiin exclusive first chapter OVERTIME. Novel terbaru karya kak Nathalia Theodora. Penasaran kan seperti apa kisahnya.

Here we go..
THAT  ONE GIRL



TERBANGUN dengan gadis yang berbeda di ranjangnya hampir setiap paginya adalah hal yang biasa bagi Christopher. Tapi, apa dia bisa meng- ingat nama mereka? Itu masalahnya.



Seperti pagi ini. Terbaring dengan mata tertutup rapat, mulut yang sedikit terbuka, dan rambut keriting yang acak-acakan, adalah seorang gadis yang sepanjang malam menemani Christopher; dari mereka ber- temu di sebuah pub yang biasa didatangi Christopher, sampai kemudian mereka mengalami malam yang dahsyat di ranjangnya. Dengan malam sedahsyat itu, nama gadis itu tetap melayang ke luar dari otaknya. Tapi dia yakin sekali, kalau nama gadis itu ada hubungannya dengan bunga.

Rose? Violet? Lily?

Ah, masa bodohlah! Tidak penting siapa nama mereka. Mereka ha- nyalah gadis-gadis tak bernama yang datang dan pergi begitu saja dalam hidupnya, tanpa arti. Dia tidak akan merasa kehilangan, hatinya sudah telanjur dingin.

Hampa.

Christopher bangkit dari tempat tidurnya. Perempuan itu memang mampu mengusir rasa sepi yang ada di dalam dadanya. Namun hanya untuk sesaat. Jika diibaratkan, meski dia berdiri di tengah-tengah Shibu- ya Crossing, dengan ribuan orang yang berlalu-lalang di sekitarnya, dia tetap tidak akan bisa mengenyahkan rasa kesepian itu.

Sekarang, apa yang menyebabkannya terbangun tadi? Ah ya, den- ting ponselnya, yang menandakan ada SMS masuk. Dia pun mengambil ponselnya dari atas nakas.
 
Hi, Chris. It’s Jennifer. I’m back in Jakarta. Can we meet this afternoon? Let’s say, 1 p.m. at Starbucks, GI?


Mata Christopher langsung memelotot. Jennifer? As in Jennifer Ar- letta? Sahabatnya sejak SMA, yang dicintainya sekian lama, tapi kemu- dian memutuskan untuk bertunangan dengan kakaknya—hanya untuk melarikan diri ke New York pada hari pernikahan mereka setahun yang lalu? That Jennifer?

Segala macam perasaan berkecamuk dalam diri Christopher—rindu, cemas, benci, semuanya membaur menjadi satu. Tadinya dia berpikir, dengan menghilangnya Jennifer ke New York, maka hidupnya akhirnya akan tenang. Tapi apa yang Jennifer lakukan? Kembali ke Jakarta? Dan kenapa dia meminta untuk bertemu dengan Christopher?

Christopher tahu, seharusnya dia mengabaikan SMS Jennifer. Tidak ada gunanya menyiksa diri dengan menemui gadis itu. Tapi akhirnya malah rasa penasarannya yang menang.

Meski masih memiliki waktu empat jam sebelum pertemuannya dengan Jennifer, tapi dia tetap bangun dari ranjangnya—dengan perlahan-lahan, agar tidak membangunkan si gadis dari pub yang tidak bisa dia ingat namanya itu—dan berjingkat-jingkat  ke kamar mandi.

Setelah mandi kilat, Christopher menghabiskan waktu sejenak di wastafel, untuk menggosok gigi, dan merapikan rambut. Rambutnya lurus dan mudah diatur, sehingga biasanya dia hanya menyisirnya de- ngan tangan. Tapi kali ini digunakannya sisirnya. Dia menyentuhkan tangannya sejenak ke anting hitam di telinga kirinya, hanya karena kebiasaan, dan kemudian keluar dari kamar mandi.

Gadis dari pub itu sudah bangun, dan Christopher sedikit terlonjak melihatnya, seolah dia sedang tertangkap basah akan kabur. Tapi tadi- nya dia memang berniat akan kabur, sehingga gadis itu tidak bisa me- ngonfrontasinya, meminta penjelasan atas apa yang terjadi tadi malam. Bagi Christopher, gadis itu hanyalah teman tidur, tapi bagaimana kalau gadis itu berpikir yang lebih jauh?

“Kamu mau pergi?” tanya gadis dari pub itu, menatap Christopher yang sudah rapi kembali.

Christopher mengangguk. “Ada janji.”

Padahal Christopher bisa saja menghabiskan waktu dulu dengan ga- dis dari pub itu sebelum menemui Jennifer. Tapi tidak. Lebih baik dia menghabiskan waktu di luar saja, daripada terjebak dalam konfrontasi dengan gadis itu.

“Kamu bisa pulang sendiri, kan?” tanya Christopher.

“Saya belum berniat pulang,” kata gadis itu, sembari mengulet, tam- paknya berhasrat untuk kembali tidur.

Merasa kalau memang lebih baik gadis itu kembali tidur, Christo- pher membiarkannya. Dia mengambil ponsel dan jam tangannya dari atas nakas—menyimpan ponselnya di saku celana jin hitamnya, dan me- makai jam tangannya di tangan kirinya. Tidak ingin meninggalkan gadis itu begitu saja, dia naik ke ranjangnya untuk memberi gadis itu ciuman selamat tinggal.

“See you, Babe,” bisik Christopher di telinga gadis itu, setelah mele- pas ciuman mereka, meski dia tidak yakin ingin bertemu gadis itu lagi.

Bukannya menanggapi Christopher yang sedang berpamitan, gadis itu malah bertanya, “Kamu nggak ingat nama saya, ya?”

Christopher kontan terkejut, karena pertanyaan gadis itu begitu te- pat sasaran. “Kenapa kamu bisa menyangka begitu?” dia balik bertanya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

“Karena sepertinya kamu menghindar untuk menyebut nama saya.” 

“Jangan konyol. Tentu saya ingat nama kamu.”

“Siapa?” tantang gadis itu.

Sialan, siapa nama gadis ini? Apa benar ada hubungannya dengan bunga? Tapi masa dia harus menebak dari antara Rose, Violet, atau Lily? “Merry,” kata gadis itu tiba-tiba, dengan sedikit mencebik, karena Christopher lama hanya terdiam.

Christopher mengerjap. “Apa?”

“Merry,” ulang gadis itu. “Itu nama saya.”

Rose/Violet/Lily nenek moyangnya! Nama gadis itu bahkan tidak ada hubungannya dengan bunga.

“Ya, tentu saja Merry,” kata Christopher, seolah dia memang meng- ingat nama gadis itu. “Saya hanya bingung gimana cara mengeja nama kamu tadi—m-a-r-y atau m-e-r-r-y.”

Gadis yang ternyata bernama Merry itu hanya mengangkat alisnya, jelas tidak percaya. Merasa kalau situasinya tidak lagi kondusif, Christo- pher pun hanya memberi Merry ciuman sekali lagi, dan segera angkat kaki dari kamarnya.

Turun dua puluh lantai melalui lift, Christopher menuju ke lantai dasar. Dia memang membawa Merry ke penthouse hotel milik keluarganya tadi malam, seperti yang juga selalu dilakukannya pada gadis-gadis lain yang ingin diajaknya bercinta. Dia tidak ingin membawa mereka ke apartemennya, untuk mencegah mereka tahu tempat tinggalnya. Akan merepotkan kalau mereka terus datang karena tidak ingin berpisah de- ngannya.

Begitu dia melintasi lobi, dia berpapasan dengan dua orang—yang salah satunya adalah orang yang paling tidak ingin dilihatnya.

Kakaknya.

***


Tyler menatap adiknya dengan mata disipitkan. Di sebelahnya, Lori—asisten  pribadinya—hanya berdiri  dengan  raut  tegang, seperti yang biasa terjadi apabila kebetulan dia harus menyaksikan pertemuan kakak-beradik itu.

Lori memiliki alasan untuk merasa tegang. Tyler memang tidak akrab dengan adiknya, dan pertemuan mereka juga tidak pernah ber- jalan mulus. Mereka selalu saja ribut, meski sebagian besar disebabkan oleh adiknya.

Christopher membenci Tyler, dan Tyler tahu jelas kenapa. Tapi dia juga tidak pernah berusaha membuat Christopher menyukainya. Kalau Christopher memang mau membencinya, ya sudah, itu kerugiannya.

“Lo nggak kerja lagi hari ini?” tanya Tyler pada Christopher, karena melihat adiknya hanya mengenakan kaus putih dan celana jin hitam. Berkebalikan sekali dengannya, yang mengenakan kemeja putih dilapisi jas hitam, lengkap dengan dasi hitam, dan celana bahan hitam.

Christopher hanya mendengus sebagai jawabannya. Seakan tidak mau berlama-lama berdiri di depan kakaknya, dia langsung melanjutkan langkahnya melintasi lobi.

Tyler menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya. En- tah sampai kapan Christopher akan bersikap kekanak-kanakan begitu.

“Dia tidur di penthouse lagi?” tanya Tyler pada Lori.

Lori mengangguk. “Sudah beberapa hari ini dia tidur di sana,” ka- tanya. “Dan dia selalu bawa gadis yang berbeda tiap malamnya.”

Tyler mendesah. “Nggak mau kerja, dan malah main perempuan begitu,” gumamnya. “Pak Denny akan melahapnya habis-habisan, ka- lau sampai dia tahu.” Yang disebutnya itu adalah nama general manager Hotel Nevenka.

“Saya akan usahakan supaya Pak Denny nggak tahu,” kata Lori, memasang tampang bersekongkol.

Mereka akhirnya melanjutkan langkah mereka melintasi lobi ber- jalan ke arah lift, dan naik ke lantai tiga. Ruang kerja Tyler berada di lantai itu.

Ruang kerja Tyler sangat luas, dengan meja logam besar yang ter- letak membelakangi kaca, dan sebuah rak buku di sebelah kirinya. Di seberang kirinya, terdapat ruang rapat kecil, yang hanya terdiri dari em- pat sofa hitam dan meja kopi. Sedangkan di seberang kanannya, terda- pat rak logam, di mana beberapa pigura foto yang salah satunya berisi kover majalah TIME yang menampilkan dirinya, sedangkan sisanya berisi foto-fotonya dengan berbagai tokoh terkemuka, serta beberapa pajangan keramik, berada.

Tyler duduk di kursinya, sementara Lori hanya berdiri di depan me- janya, bersiap membacakan jadwal Tyler untuk hari ini.

“Jam sepuluh, kamu harus mewawancarai calon pengganti saya,”
mulai Lori, membuat Tyler langsung mengerang.

“Kamu harusnya  nggak mengingatkan saya,” keluh Tyler. “Saya sedang berusaha melupakan fakta bahwa kamu akan segera pergi dari saya.”

Lori tertawa. “Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari saya.” “Saya nggak yakin,” gerutu Tyler. 

“Kenapa Hendrik harus merebut kamu dari saya?”
Tawa Lori berlanjut. “Karena dia akan menikahi saya,” katanya. 

“Dia nggak ingin saya bekerja.”

“Memangnya kenapa kalau wanita bekerja?”

Lori mengangkat bahu. “Dia hanya ingin saya fokus mengurus ru- mah kami nanti,” katanya. “Dan, tentu saja, anak kami nanti.”

“Well, saya nggak bisa berkomentar lagi kalau soal itu,” kata Tyler. “Tapi, Lori.” Wajahnya berubah serius. “Saya benar-benar mendoakan kebahagiaan kamu.”

Wajah Lori langsung berseri-seri. “Thanks, Ty,” katanya. “Jangan lupa ya datang ke pernikahan kami nanti.”

“Absolutely.”

Lori lalu kembali membacakan jadwal Tyler. “Jam dua belas, kamu ada lunch meeting dengan Pak Denny,” lanjutnya. “Lalu jam dua, kamu ada meeting dengan divisi sales & marketing, dilanjutkan meeting de- ngan divisi food & beverage.  Dokumen-dokumen yang harus kamu tanda tangani ada di meja saya, akan saya susun dulu sebelum saya kasih ke kamu.”

Tyler mengurut-urut  pelipisnya, merasa lelah bahkan hanya de- ngan mendengar daftar rapat yang harus dihadirinya. “Oke,” desahnya. “Kamu kembali saja ke mejamu.”

Lori pun pamit, meninggalkan Tyler seorang diri di ruangannya. Dengan Lori yang begitu cekatan menjadi asisten pribadinya, Tyler ber- harap calon penggantinya pun sama cekatannya.

No comments:

Post a Comment

Feel free to leave comments ya :)
Any comments about anything, except SPAM is welcome.

Thank you for visiting, sobat! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...