Home         Who Am I         Corner         RC 2017         Book Sale         Disclosure         Privacy Policy         Wishlist

13 October 2018

Black Leather Jacket - Aditia Yudis & Ifnur Hikmah | Ngewagerin Penulis



Holaaaa..

Ketemu lagi sama aku. Udah lama yaa nggak menyapa sobat Peek A Book di sini. Ada yang kangen nggak sama aku? Nggak ada yaa? Oke deh, bye! Hahaha.. Pertama kali lihat cover beserta blurb dari novel ini udah bikin aku penasaran setengah mati. Apalagi judulnya. Kenapa? Karena langsung bayangin cogan-cogan pakai jaket kulit. Hihi.. Terima kasih, kakak Penerbit. Berhubung belum pernah sama sekali baca karya kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah, jadi aku begitu baca ceritanya, jatuh cinta sama ceritanya.

Saat diberikan kesempatan untuk bertanya kepada kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah, nggak disia-siakan dong yaa pastinya. Akhirnya, sebagai pemilik blog Peek A Book, aku berhasil mengajak kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah buat ngobrol bareng sambil nanya proses kepenulisan novel ini.

Adakah disini yang belum mengenal kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah? Seriusan belum mengenal kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah? Kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah ini salah satu penulis yang jujur, aku belum pernah baca ceritanya sama sekali. Jadi, aku beneran belum punya bayangan sama sekali dengan karya beliau berdua.

Penasaran sama obrolan bersama kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah? Here we go..
 
Halo, kak Adit dan kak Ifnur, apa kabarnya? Salam kenal. Senang sekali rasanya bisa memiliki kesempatan untuk membaca karya kakak berdua. Dalam proses penulisan Black Leather Jacket, apakah ada kendala yang berarti? Kalau iya, apakah itu, kak?

- Ifnur Hikmah -

Sebenarnya naskah Black Leather Jacket ini sudah ditulis sejak 2013, jadi lumayan tersimpan lama sebelum diikutkan ke lomba. Ketika memutuskan untuk mengikutsertakan ke lomba, kita serasa harus nulis dari awal lagi karena udah lupa ceritanya. Lumayan lama untuk bisa masuk lagi ke dalam karakter-karakternya, termasuk menyocokkan kembali beberapa detail biar lebih up to date, karena trend di 2018 tidak sama dengan 2013 dulu.

- Aditia Yudis -

Selain kendala yang disebutkan Iif, ada satu lagi yang cukup berarti, yaitu jarak. Dulu pas menulis draf awal, tempat tinggal kami masih berdekatan dan masih sering main bareng. Sekian tahun terlewat dan aku pindah ke kota lain, Ifnur juga punya kesibukan lain, akhirnya agak sulit punya waktu untuk mendiskusikan ini. Tapi akhirnya kendala ini kami kalahkan dengan sama-sama melepaskan kesibukan dan ketemu langsung untuk mengerjakan naskah ini.

Karena ini adalah karya duet, bagaimana cara kakak berdua mematangkan ide, kemudian proses penulisan, bagaimana cara membagi penulisan novel ini?

- Ifnur Hikmah -

Awalnya kita menulis scene demi scene bareng-bareng, lalu dibagi, kira-kira scene A siapa yang cocok. Karena kekuatanku dan Adit itu beda, jadi kita bisa nyesuaiin scene tertentu bakalan lebih greget kalau ditulis sama aku atau Adit. Terakhir, ketika sudah selesai semua, kita baca ulang bareng dan tandain mana yang harus dibenerin agar tone-nya sama,

- Aditia Yudis -

Dari ide, selanjutnya kami akan tulis sinopsisnya, kemudian dibagi jadi kerangka dari awal sampai akhir. Di sela-selanya, kami harus sepakat nih tentang karakter (penampilan, sifat, dll), setting (di mana dan kira-kira seperti apa). Jadi, selain menjabarkan ide jadi kerangka, hal yang kami berdua pasti lakukan adalah berbagi tugas mencari gambaran karakter dan detail-detail yang nantinya harus dideskripsikan dalam naskah.

Apakah kak Adit dan kak Ifnur memiliki strategi khusus dalam mempromosikan novel-novel kakak di tengah-tengah makin banyaknya penulis baru saat ini. Bagaimana cara kak Adit dan kak Ifnur untuk bisa berbeda dengan penulis lainnya? Apakah ada ciri khas dari kak Adit dan kak Ifnur agar pembaca senantiasa membaca karya kakak?

- Ifnur Hikmah -

Media sosial jadi sarana yang pas karena word of mouth yang menyebar di sana bisa memengaruhi orang lain untuk baca, jadi kita pun mempromosikan buku ini di sana, Selain itu juga lewat blog tour ini agar teman-teman blogger bisa ikut menikmati ceritanya dan berbagi dengan pembaca.

- Aditia Yudis -

Aku senada dengan Iif, penulis di masa sekarang juga harus cermat berteknologi dan akrab menggunakan media sosial karena pada saat ini media sosial adalah cara ampuh untuk membuat pembaca sadar akan karya kami. Mengenai ciri khas, aku sendiri enggak tahu ciri khas kami apa, biasanya yang menemukan ciri khas dari sebuah karya justru pembaca setia.

Black Leather Jacket kan membahas mengenai sebuah perasaan yang belum tersampaikan. Menurut kakak berdua, apa yang harus dilakukan jika kita memiliki perasaan pada seseorang namun belum kita sampaikan kepada orang tersebut? Sometimes kan ada yang kemudian menempuh segala macam cara untuk bisa menyampaikan perasaannya, atau sampai depresi gitu.

- Ifnur Hikmah -

Perasaan yang belum tersampaikan itu bisa jadi beban karena bakalan kepikiran terus. IMHO, jika enggak mau kebebani, ungkapin aja. Tapi, harus siap dengan semua risiko, termasuk risiko ditolak. But at least dengan ngasih tahu, satu beban kita jadi keangkat. Kalau ditolak, kita enggak perlu bertanya-tanya lagi, deh, soal perasaan dia, jadi bisa move on. Caranya mungkin bisa lewat chat kalau enggak berani tatap muka langsung, dan punya waktu lebih banyak buat ngerangkai kata-kata yang pas.

- Aditia Yudis -

Aku setuju dengan Ifnur, jika enggak mau terbebani perasaan, ungkapkan saja. Perasaan yang dipendam sendirian itu serasa baca novel tapi enggak tahu endingnya. Gantung gitu dan bukan gantung yang tipe cliffhanger juga. Setidaknya dengan mengungkapkan perasaan bisa terbayar satu utang kepada diri sendiri dan apa pun hasilnya, patut banget dirayakan karena kamu sudah begitu bernyali! Kalau memang enggak ada cara untuk mengungkapkan, misalkan terhalang jarak, atau dia sudah jadi milik yang lain, buatlah perasaan terpendam itu jadi sebuah karya. Puisi. Novel. Lukisan. Lagu. Sudah terbukti sejak dulu, perasaan yang dipendam, yang tak tersampaikan, yang bertepuk sebelah tangan adalah bahan dari banyak karya luar biasa.

Ada tips nggak, kak, bagaimana caranya membuat sebuah cerita yang benar-benar deep banget sampai bikin pembaca susah buat beranjak dari cerita tersebut. Dan juga bagaimana caranya membuat satu karakter tokoh novel yang kakak tulis ini bisa bikin pembaca jatuh cinta dan penasaran setengah mati.

- Ifnur Hikmah -

Aku berpegang pada dua hal: menulis yang aku suka dan yang aku benar-benar paham. Dengan menulis yang aku suka, aku bisa tulus dan benar-benar sepenuh hati ngerjainnya, soalnya aku percaya kalau kita melakukan sesuatu dengan tulus, perasaan itu akan menular ke orang lain, yang dalam hal ini adalah pembaca. Kedua, menulis hal yang aku pahami, sehingga ceritanya terasa lebih kaya dan pembaca bisa lebih dekat dengan tokoh serta kisahnya. Tidak ada salahnya untuk eksplor hal baru, dan di sanalah dibutuhkan riset agar lebih paham dengan konteks yang akan ditulis. Sehingga, tidak akan terasa mengambang karena kalau info yang diberikan hanya di permukaan saja, pembaca enggak akan merasa mendapat sesuatu dari sana, dan mereka bisa pergi sebelum kelar membaca bukunya.

- Aditia Yudis -

Menulis yang dalam membutuhkan kepekaan. Butuh mengenal diri sendiri. Buatku, itu seperti sebuah perjalanan sih. Menulis berdasarkan pengalaman saja enggak cukup untuk menciptakan tulisan yang dalam. Ada campur tangan pengetahuan dan teknik menulis juga. Akan tetapi, satu kunci jelas untuk membuat cerita yang dalam adalah dengan membangun karakter yang dapat dipahami pembaca. Karakter yang posisinya mudah diidentifikasi oleh pembaca, yang tingkah laku dan pikirannya menumbuhkan simpati pembaca, yang situasinya menghadirkan empati pembaca. Kalau tiga faktor itu terpenuhi, akan mudah memunculkan keterikatan antara pembaca dan si karakter. Kalau ingin bikin karakter yang bikin pembaca jatuh cinta, bikin dia misterius dan punya banyak rahasia, hahaha.

***

Gimana nih ngewagerin penulis kali ini bareng kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah? Asyik banget kan yaa? Jadi tambah nggak sabar nih buat baca cerita kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah selanjutnya. Kira-kira tema apa yaa yang bakalan kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah tulis selanjutnya, terus endingnya gimana yaa? 

Makasih banyak, kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah, sudah bersedia meluangkan waktunya buat ngobrol barengnya sambil nanya proses kepenulisan novel ini.  Semoga suatu hari kita bisa meet up juga yaa. 

Asyikkk, kelar sudah ngewagerin penulis Peek A Book bersama dengan kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah. Don't go anywhere, karena habis ini masih ada review novel Black Leather Jacket yang akan tayang  dan ada Giveaway Black Leather Jacket yang pastinya udah kalian tunggu. So, stay tune yaa only on Peek A Book.

***

19 – 21 SEPTEMBER 2018 : SEFFI SOFFI
Url blog : http://seffisoffi.blogspot.com

22 – 24 SEPTEMBER 2018 : ATHAYA
Url Blog: http://theboochconsultant.blogspot.co.id/

25 – 27 SEPTEMBER 2018 : GABRIELLA HALIM
URL blog : whatsgabyread.blogspot.com

28 – 30 SEPTEMBER 2018 : ILMI FADILLAH
Url Blog: http://ilmifadillah.blogspot.com

1 – 3 OKTOBER 2018 : NATHALIA DP
URL Blog: http://nathaliabookshelf.blogspot.com

4 – 6 OKTOBER 2018 : NOLA
Url blog: https://canolareads.wordpress.com

7 – 9 OKTOBER 2018 : ASTRID CITRALOKAM
Url Blog:  dateabook.blogspot.co.id.

10 – 12 OKTOBER 2018 : PUTU RINI CIPTA RAHAYU
URL Blog : rinspiration95.blogspot.com

13 – 15 OKTOBER 2018 : ASRI RAHAYU MS
URL Blog: www.peekthebook.com

16 – 18 OKTOBER 2018 : ADYTA DHEA PURBAYA
Blog : adytapurbaya.blogspot.com


Rangkaian blog tour kali ini diikuti oleh 7 blogger buku yang masing-masing mewawancarai dan mengadakan giveaway novel  Black Leather Jacket mulai 19 September – 16 Oktober 2018. Buat sobat Peek A Book yang penasaran dengan Ngewagerin Penulis bersama kak Aditia Yudis & Ifnur Hikmah, monggo langsung saja mampir ke blog-blog tersebut di atas. Siapa tahu lhoo, keberuntungan kemenanganmu ada di situ. Semangat! 

Biar makin penasaran, aku kasih intip dikit yaa soal Black Leather Jacket.. Udah siap ngintip?

 

***  

Tentang Penulis :

ADITIA YUDIS
Lahir dan menetap di Lampung. Mulai menulis sejak tahun 2009 dan terus belajar hingga sekarang. Penulis favoritnya adalah Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Ted Chiang. Sejak tahun 2010 sudah beberapa bukunya yang diterbitkan, antara lain novel adaptasi skenario 7 Misi Rahasia Sophie (2014),Time After Time (2015),Senandika Prisma(2016), dan Potret (2017).

Email:aditiayudis@gmail.com
IG/Twitter: @adit_adit.

IFNUR HIKMAH
Pembaca di pagi hari, editor di siang hari, penulis di malam hari. Menetap di Jakarta dan berkutat dengan kehidupan remaja sepanjang hari karena tuntutan pekerjaan. Menulis agar tetap waras karena butuh menuangkan isi kepala ke dalam tulisan. Sejak 2013 sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Mendekap Rasa (2013), Do Rio Com Amor (2015), Reborn (2016). Impian terbesar: interview Michelle Obama.

Email: ifnurhikmah89@gmail.com
Instagram/Twitter: @ifnurhikmah/@iiphche

4 comments:

  1. Setuju banget sama para penulis, aku sebagai pembaca juga lebih tertarik dengan novel yang gencar dipromosikan di sosmed. Apalagi kalau dilakukan oleh penulisnya sendiri, lebih greget aja melihat bagaimana penulis menunjukkan pada dunia bagaimana hasil imajinasinya.

    ReplyDelete
  2. Wah aku setuju banget nih sama kak Ifnur dan kak Aditia bahwa perasaan itu harus diungkapkan biar lega, tapi kadang ada sebagian orang yang gak sanggup menerima jawabannya sih kak. Makanya lebih milih dipendem aja, kadang juga mereka nggak mau nerima resiko ditolak. Padahal itu bahaya yaa buat diri sendiri, kalo aku sih lebih milih curhat keten aja kak, lagian aku cewek masih menjunjung harga diri hehe

    ReplyDelete
  3. curhat ketemen maksudnya kak, kurang lengkap hehe

    ReplyDelete